Segenggam Garam Dan Telaga…
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak…
Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah…
Langkahnya gontai dan wajahnya kusam…
Keadaan tubuhnya tak karuan…
Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya…
Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi…
Pak tua yang bijak hanya mendengarkan dengan seksama…
Begitu tamunya selesai bertutur, ia lalu mengambil segenggam garam, dan memintanya untuk mengambil segelas air…
Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya secara bertahan…
“Coba minum ini, dan katakana bagaimana rasanya.” ujar pak tua itu…
“Pahit!!! Pahit sekali!!!” jawab anak muda itu sambil meludah ke samping…
Pak tua itu terseyum…
Lalu mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya…
Kedua orang itu berjalan cukup lama…
Akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang…
Pak tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu…
Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu…
“Sekarang, coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah.” ujar pak tua kemudian…
Anak muda itu menuruti apa yang diminta oleh pak tua…
Ia segera meminum beberapa teguk air telaga…
Begitu tamunya selesai meneguk air, pak tua itu berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”
“Segar!” sahut anak muda itu…
“Apakah kau bisa merasakan garam di dalam air itu?” tanya pak tua lagi…
“Tidak.” jawab si anak muda…
Dengan bijak pak tua itu menepuk-neouk punggung si anak muda…
Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping talaga itu…
“Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima segalanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak tua itu kembali menambahkan nasihatnya. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempatmu menampungnya segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.” …
Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga…
Mereka sama-sama belajar hari itu…
Dan pak tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain…
Gimana kakak, dah dapet pencerahan..?
…
Filed under: RPL

hahaha……hebat ne kekasihku……
ayo terus oprekinnya, biar tambah pinter……
semangat……………..